DihadapanNya, manusia mempunyai derajat yang sama, kecuali takwanya : berarti tidak ada yang berhak untuk mengaku sebagai pemimpin, kecuali bila dia memang terbukti paling bertakwa.
Kemuliaan manusia dihadapanNya, dinyatakan dalam hak azasi setiap manusia, untuk dapat menyembah langsung kepadaNya, tanpa perantara, tanpa syarat, tanpa batas.
Tinggal bagaimana sang manusia dapat memanfaatkan fasilitas : berdandan melebihi dandanan ketika hendak menghadap pimpinan, bersiap melebihi kesiapan ketika hendak melamar kerja, dan memantapkan hati melebihi kemantapan ketika hendak berangkat berkencan.
Mulialah orang-orang yang tidak sempat menggunjing orang lain, karena terlalu sibuk mencari-cari kekurangan diri.
Terkutuklah orang-orang yang tidak tahu diri, selalu iri dan dengki, hanya karena berebut rejeki.
Mulialah orang-orang yang tidak sempat menyombongkan diri, karena terlalu sibuk mensyukuri kebaikan orang lain.
Terkutuklah orang-orang yang angkuh, semoga lekas runtuh, biar merasakan mengais-ngais mencari teduh, martabat jatuh, orang lain tak ada yang butuh.
Ada seorang ulama masuk neraka karena kesombongannya, dan ada seorang pendosa masuk surga karena taubatnya.
Mulia, bukan hak manusia untuk menentukan, jangankan kemuliaan orang lain, kemuliaan diripun terlarang untuk ditengok.
Ada manusia masuk surga hanya karena membiarkan lalat minum dari gelasnya, khawatir mengganggu hingga lalat kenyang dan terbang (apalagi mengganggu manusia).
Ada manusia masuk neraka, hanya karena kesalahannya kepada orang yang tidak dia sadari, dan tidak dia sengaja (apalagi sengaja).
Mulia, bukan karena penilaian sesama manusia, gajah di pelupuk mata tak tampak, kuman di seberang lautan tampak.
Mulia, tidak ada hubungannya dengan manusia, biarkan saja anjing menggonggong, kafilah tetap berlalu.
15 April 2009
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar